π Amsal 3:5–6
“Percayalah kepada TUHAN dengan
segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah
Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Memasuki bulan Juni, kita memasuki
tema baru: “Iman dan Ketaatan.”
Iman dan ketaatan adalah dua hal
yang tidak dapat dipisahkan. Iman sejati tidak hanya percaya dalam hati, tetapi
juga berani melangkah dalam ketaatan kepada Tuhan.
Tema firman Tuhan hari ini adalah:
π “Percaya dan
Melangkah.”
Karena banyak orang percaya kepada
Tuhan, tetapi tidak semua berani mengikuti pimpinan-Nya.
Pendahuluan
Kehidupan sering membawa kita pada
persimpangan jalan.
Ada saat-saat ketika:
- kita tidak mengetahui masa depan,
- kita tidak memahami rencana Tuhan,
- kita menghadapi ketidakpastian,
- kita harus mengambil keputusan yang sulit.
Pada saat seperti itu muncul pertanyaan:
"Apakah saya tetap percaya
kepada Tuhan ketika saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi?"
Kitab Amsal memberikan jawaban:
“Percayalah kepada TUHAN dengan
segenap hatimu...”
Tuhan tidak meminta kita memahami
semuanya.
Tuhan meminta kita mempercayai Dia.
1. Iman Dimulai dengan Percaya Sepenuhnya kepada Tuhan
Firman Tuhan berkata:
“Percayalah kepada TUHAN dengan
segenap hatimu.”
Percaya kepada Tuhan berarti:
- menyerahkan hidup kepada-Nya,
- mempercayakan masa depan kepada-Nya,
- yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah.
π Mazmur 37:5
“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
π Ibrani 11:1
“Iman adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat.”
π Yeremia 17:7
“Diberkatilah orang yang
mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Ilustrasi
Seorang anak kecil dapat tertidur
nyenyak di dalam mobil yang dikendarai ayahnya. Ia tidak tahu jalan mana yang
akan ditempuh, tetapi ia percaya kepada ayahnya.
Demikian juga kehidupan orang
percaya. Kita tidak selalu tahu jalan Tuhan, tetapi kita mengenal Pribadi yang
memimpin perjalanan kita.
Implikasi
Iman sejati tidak bergantung pada
keadaan yang terlihat, tetapi pada karakter Allah yang setia.
2. Iman Menolak Bersandar pada Pengertian Sendiri
Firman Tuhan berkata:
“Janganlah bersandar kepada
pengertianmu sendiri.”
Salah satu musuh terbesar iman
adalah keinginan untuk mengendalikan semuanya.
Kita sering berkata:
- "Saya harus mengerti dulu."
- "Saya harus melihat hasilnya dulu."
- "Saya harus merasa aman dulu."
Tetapi Tuhan berkata:
π Jangan bersandar pada
pemahamanmu sendiri.
π Yesaya 55:8–9
“Rancangan-Ku bukanlah
rancanganmu...”
π 2 Korintus 5:7
“Sebab hidup kami ini adalah hidup
karena percaya, bukan karena melihat.”
π Roma 11:33
“Sungguh dalam kekayaan hikmat dan
pengetahuan Allah!”
Ilustrasi
Ketika seseorang berada di tengah
hutan yang lebat, ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya. Namun
seorang pemandu yang mengenal medan tahu arah yang benar.
Tuhan melihat seluruh perjalanan
hidup kita dari awal sampai akhir.
Implikasi
Ketaatan sering dimulai ketika
logika kita berhenti dan kepercayaan kepada Tuhan mengambil alih.
3. Iman yang Sejati Selalu Menghasilkan Ketaatan
Firman Tuhan berkata:
“Akuilah Dia dalam segala lakumu...”
Mengakui Tuhan bukan hanya melalui
kata-kata.
Mengakui Tuhan berarti:
- melibatkan Tuhan dalam keputusan,
- mencari kehendak-Nya,
- melakukan apa yang diperintahkan-Nya.
π Yakobus 2:17
“Iman, jika tidak disertai
perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
π Yohanes 14:15
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu
akan menuruti segala perintah-Ku.”
π Ibrani 11:8
“Karena iman Abraham taat...” tentang Abraham yang berangkat tanpa mengetahui tujuan
akhirnya.
Ilustrasi
Iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan
membuka pintu.
Iman adalah keberanian untuk
melangkah ketika Tuhan berkata: "Masuklah."
Implikasi
Ketaatan adalah bukti nyata bahwa
iman kita hidup.
4. Tuhan Menuntun Orang yang Percaya dan Taat
Firman Tuhan berkata:
“Maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Tuhan tidak menjanjikan jalan yang
selalu mudah.
Tetapi Tuhan menjanjikan:
- penyertaan-Nya,
- pimpinan-Nya,
- dan arah yang benar.
π Mazmur 32:8
“Aku hendak mengajar dan menunjukkan
kepadamu jalan yang harus kautempuh.”
π Yesaya 30:21
“Inilah jalan, berjalanlah
mengikutinya.”
π Mazmur 119:105
“Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku.”
Ilustrasi
Lampu kendaraan pada malam hari
tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus. Lampu itu hanya menerangi
beberapa meter di depan. Tetapi cukup untuk membuat kita terus berjalan.
Begitu pula Tuhan memimpin langkah
demi langkah.
Implikasi
Orang yang berjalan bersama Tuhan
tidak perlu mengetahui seluruh perjalanan; cukup percaya kepada Sang Penuntun.
Aplikasi Praktis
Mari kita bertanya kepada diri
sendiri:
- Apakah saya sungguh mempercayai Tuhan dalam segala hal?
- Di area mana saya masih bersandar pada kekuatan
sendiri?
- Apakah ada langkah ketaatan yang sedang Tuhan minta
saya lakukan?
- Apakah saya berani melangkah meskipun belum melihat
hasilnya?
Hari ini Tuhan memanggil kita untuk:
➡
percaya sepenuh hati kepada-Nya
➡ melepaskan pengertian sendiri
➡ hidup dalam ketaatan
➡ melangkah dengan iman
Penutup
Iman bukan sekadar berkata
"Saya percaya."
Iman adalah keberanian untuk
melangkah ketika Tuhan berbicara.
Banyak mujizat dalam Alkitab terjadi
setelah seseorang melangkah dalam iman.
Hari ini Tuhan masih mencari
orang-orang yang berkata:
"Tuhan, meskipun aku belum
melihat seluruh jalan di depan, aku percaya kepada-Mu dan aku akan melangkah
bersama-Mu."
Penegasan Akhir
Iman, percaya kepada Tuhan.
Ketaatan, melangkah bersama Tuhan.
Dan berkat Tuhan mengikuti mereka yang percaya dan taat.
Amin. π
0 comments:
Posting Komentar